Monday, May 11, 2015

HUBUNGAN KEPADATAN PENDUDUK DAN KEMACETAN LALU LINTAS

 HUBUNGAN KEPADATAN PENDUDUK DAN KEMACETAN LALU LINTAS


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Jaringan jalan memiliki fungsi yang sangat penting yaitu sebagai prasarana untuk memindahkan/transportasi orang dan barang, dan merupakan urat nadi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya dan stabilitas nasional, serta upaya pemerataan dan penyebaran pembangunan. Dalam dimensi yang lebih luas, jaringan jalan mempunyai peranan yang besar dalam pengembangan suatu wilayah, baik wilayah secara nasional, propinsi, maupun kabupaten/kota sesuai dengan fungsi dari jaringan jalan tersebut.

Permasalahan di sektor transportasi merupakan permasalahan yang banyak terjadi di berbagai kota. Bila di suatu wilayah perkotaan populasinya mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, maka secara linier terjadi pula peningkatan jumlah kendaraan. Hal ini disebabkan karena adanya pertumbuhan penduduk di daerah perkotaan yang berarti semakin meningkatnya mobilitas warga masyarakat yang berakibat pada kepemilikan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Sektor transportasi merupakan salah satu sektor yang memberikan dampak yang cukup besar terhadap lingkungan, terutama akibat penggunaan bahan bakar fosil yang menjadi penyebab utama terjadinya pencemaran udara terutama di daerah perkotaan. Pencemaran udara akibat gas buang akibat lalu lintas dipengaruhi oleh volume lalu lintas, proporsi kendaraan berat, kecepatan, dan jarak antara sumbu jalan dengan titik yang di tinjau.

Kemacetan tidak bisa dipisahkan dari tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. khususnya dibeberapa kota besar salah satunya yaitu kota Bandar Lampung. Kota Bandar Lampung merupakan sebuah kota, sekaligus ibu kota provinsi Lampung, Indonesia. Secara geografis, kota ini menjadi pintu gerbang utama pulau Sumatera, tepatnya kurang lebih 165 km sebelah barat laut Jakarta, memiliki andil penting dalam jalur transportasi darat dan aktivitas pendistribusian logistik dari Jawa menuju Sumatera maupun sebaliknya. Berdasarkan data dari Badan Pusat Stastik Provinsi Lampung terdapat 902.885 jiwa penduduk di Kota Bandar Lampung pada tahun 2012. Seiring perkembangannya, kota Bandar Lampung memiliki masalah terhadap kemacetan lalu lintas, seperti yang dialami oleh kota-kota besar lainnya. Kemacetan lalu lintas juga tidak akan dapat dihindari. Kita lihat saja dalam beberapa tahun terakhir ini, semakin padat saja jalan utama yang berada di kota Bandar Lampung.

Kemacetan lalu lintas itu sendiri adalah kondisi dimana volume lalu lintas lebih besar daripada kapasitas jalan. Kemacetan lalu lintas terjadi biasanya pada ruas jalan yang menjadi akses utama dari aktifitas masyarakat suatu kota. Semakin meningkatnya jumlah penduduk mengakibatkan semakin tingginya tingkat kegiatan dan secara langsung akan meningkatkan pergerakan pada suatu daerah. Meningkatnya jumlah pergerakan di suatu kota akan meningkatkan jumlah penggunaan sarana transportasi baik sarana transportasi umum maupun pribadi.

Semakin meningkatnya jumlah sarana transportasi yang tidak seiring dengan peningkatan prasarana transportasi, seperti jalan raya, mengakibatkan peningkatan volume lalu lintas tidak mampu ditampung oleh kapasitas jalan raya.

Terjadinya kepadatan lalu lintas di Kota Bandar Lampung merupakan salah satu permasalahan yang penting bagi Pemerintah Kota Bandar Lampung, terutama terjadinya kepadatan pada jalan-jalan utama pada kawasan-kawasan pusat kota (Central Business District).

B.       Permasalahan

Permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.        Apakah hubungan kepadatan penduduk dengan kemacetan lalu lintas yang terjadi di kota Bandar Lampung?
2.        Apakah yang menjadi penyebab terjadinya kemacetan lalu lintas di kota Bandar Lampung?
3.        Bagaimanakah solusi pemerintah kota Bandar Lampung dalam mengurangi kemacetan?

C.      Tujuan

1.        Mengetahui hubungan kepadatan penduduk dengan kemacetan lalu lintas yang terjadi di kota Bandar Lampung
2.        Mengetahui sebab-sebab masalah kepadatan penduduk yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas di kota Bandar Lampung.
3.        Mengetahui solusi pemerintah kota Bandar Lampung dalam mengurangi kemacetan.

D.      Sumber Data yang Digunakan

Sumber data yang digunakan dalam makalah ini adalah data skunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada berupa catatan atau dokumentasi perusahaan, dan laporan pemerintah.

 BAB II
PEMBAHASAN


A.      Kepadatan Penduduan Kota Bandar Lampung

Kota Bandar Lampung adalah Ibukota Provinsi Lampung, dengan luas wilayah daratan 19.722 Ha ( 197.22 KM2) dan luas perairan ± 39.82 KM2, terdiri atas Pulau Kubur dan Pulau Pasaran. Daerah ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan, sosial, politik, pendidikan dan kebudayaan, serta merupakan pusat kegiatan perekonomian daerah Lampung (BPS, 2012).

Kota Bandar Lampung terletak pada 5° 20’- 5° 30’ Lintang Selatan dan 105° 28’ - 105° 37’ Bujur Timur, serta terletak pada ketinggian 0 sampai 700 meter di atas permukaan laut, dengan rata-rata ketinggian 77,08 meter di atas permukaan laut. Keadaan demografis tersebut menjadikan Kota Bandar Lampung sebagai pintu gerbang penghubung antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kota Bandar Lampung juga daerah persinggahan untuk pengiriman bahan pangan melalui darat (BPS, 2012)

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, 2012 Kota Bandar lampung memiliki kepadatan penduduk 4.520 jiwa/KM2 yaitu dari jumlah penduduknya sebesar 891.374 jiwa, dan juga luas wilayahnya seluas 197,22 km2 terbagi kedalam 12 kecamatan, dimana kecamatan, luas wilayah, dan kepadatan penduduknya disajikan pada yang tabel berikut ini.

 Tabel 1. Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk per kecamatan
di Kota Bandar Lampung tahun 2011

Kecamatan
Jumlah Penduduk (jiwa)
Luas Wilayah (km2)
Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)
Teluk Betung Barat
Teluk Betung Selatan
Panjang
Teluk Betung Timur
Teluk Betung Utara
Tanjung Karang Pusat
Tanjung Karang Barat
Kemiling
Kedaton
Rajabasa
Tanjung Seneng
Sukarame
Sukabumi
60.041
93.156
64.194
90.295
63.342
73.169
64.439
72.248
89.273
43.727
41.672
71.530
64.288
20,99
10,07
21,16
21,11
10,38
6,68
15,14
27,65
10,88
13,02
11,63
16,87
11,64
2.860
9.251
3.034
4.277
6.120
10.953
4.256
2.613
8.205
3.358
3.583
4.240
5.523
Jumlah
891.374
197,22
4.520
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, 2012

B.       Kemacetan di Kota Bandar Lampung

Kemacetan adalah situasi atau keadaan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutama yang tidak mempunyai transportasi publik dengan baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk.

Masalah kemacetan menjadi bagian dari beragam permasalahan kota yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Terjadinya kemacetan lalu lintas di Kota Bandar Lampung merupakan salah satu permasalahan penting yang harus diatasi oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung, terutama terjadinya kepadatan pada jalan-jalan utama pada kawasan-kawasan pusat kota

Dapat diketahui bahwa data peningkatan jumlah kendaraan di Kota Bandar Lampung yang ada pada tabel di bawah ini.

 Tabel 1. Jumlah Kendaran di Kota Bandar Lampung pada Tahun 2005-2009

Tahun
Mobil Pribadi
Motor
2005
40.560
121.682
2006
50.380
150.930
2007
62.583
190.822
2008
74.300
250.065
2009
96.573
327.180
(Sumber: BPS Kota Bandar Lampung dala Angka dan Dinas Perhubungan,
2010).

Dari tabel di atas dapat diketah bahwa jumlah kendaraan mengala peningkatan yang bagitu cepat, padah peningkatan kendaraan tidak diimban dengan peningkatan infrastruktur ja seperti pelebaran ruas dan perbaikan ja yang rusak. Masalah kemacetan tidak han berimplikasi dengan hal teknis saj melainkan perilaku masyarakat yang leb memilih kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum sebagai sara transportasi.

C.      Hubungan Tingkat Kepadatan Penduduk dan Kemacetan Lalu Lintas di Kota Bandar Lampung

Tingkat kepadatan penduduk sangat mempengaruhi kemacetan lalu lintas di kota Bandar Lampung karena bertambahnya penduduk maka penggunaan kendaraan semakin banyak karena mereka memiliki keinginan untuk memperoleh kenyamanan, prestise, dan kurang representatifnya transportasi massal mungkin mendorong orang-orang yang mampu secara ekonomi untuk membeli dan menggunakan kendaraan pribadi, khususnya roda empat. Bayangkan jika ternyata rata­rata kendaraan roda empat di kota initernyata hanya mengangkut 1-2 orang pada setiap kali perjalanannya, tidak dapat dihindari lagi pertambahan volume kendaraan dan meningkatnya beban jalan.

Selain itu, faktor yang menjadi penyebab timbulnya kemacetan di Kota Bandar Lampung; Pertama, Daya tampung ruas jalan yang overload atau beban yang terlalu berat dengan jumlah kendaraan yang lewat. Beberapa jalan di Kota Bandar Lampung sebenarnya tidak mampu lagi menampung aktivitas kendaraan pada jam jam puncak. Kondisi jalan tersebut kini kontras sekali dengan kondisi 1-2 tahun sebelumnya. Pada ruas jalan protokol misalnya mulai pukul 07.00-18.00 semakin macet. Jika dilihat dalam konteks kota secara keseluruhan, ada beberapa ruas jalan di Bandar Lampung yang rutin mengalami kemacetan ketika jam -jam sibuk, seperti Jalan Kartini, Jalan Raden Intan, dan Jalan Ahmad Yani dan beberapa ruas jalan lainnya di Kota Bandar Lampung meskipun intensitas kemacetannya tidak sama pada pusat kota yang ada di Ibu Kota Jakarta. Kedua, beberapa trafic light rambu lalu lintas yang kurang berfungsi turut menjadi penyebab meningkatnya angka kemacetan di Kota Bandar Lampung. Ketiga, angkutan kota dan perilaku pengguna jalan, perilaku sopir angkutan kota yang berhenti sembarangan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, serta perilaku pengguna jalan bahkan mungkin kita sendiri menjadi faktor penyumbang bertambahnya angka kemacetan. Keempat, tata guna lahan atau pengembangan sarana publik seperti pusat perbelanjaan yang masih berkonsentrasi di pusat kota berimplikasi pada terpusatnya pergerakan kendaraan dan orientasi masyarakat untuk selalu menuju pusat kota untuk berbelanja atau untuk menikmati sarana publik yang memiliki kesan metropolis. Kelima, pedagang Kaki Lima (PKL). Aktivitas PKL khususnya yang ada di sekitar Jalan Kartini dan Raden Intan dan jalan-jalan lain di pusat kota yang menggunakan badan jalan ikut menyumbang kemacetan. Kemacetan tersebut disebabkan banyaknya kendaraan pribadi yang menuju ke pasar tradisional paling populer di Kota Bandar Lampung tersebut secara bersamaan.

 BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan

Kemacetan adalah situasi atau keadaan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutama yang tidak mempunyai transportasi publik dengan baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk.

Tingkat kepadatan penduduk sangat mempengaruhi kemacetan lalu lintas di kota Bandar Lampung karena bertambahnya penduduk maka penggunaan kendaraan semakin banyak karena mereka memiliki keinginan untuk memperoleh kenyamanan, prestise, dan kurang representatifnya transportasi missal. Selain itu, factor lain yang mempengaruhi kemacetan di kota Bandar Lampung adalah daya tampung ruas jalan yang overload, beberapa trafic light rambu lalu lintas yang kurang berfungsi, angkutan kota dan perilaku pengguna jalan, perilaku sopir angkutan kota yang berhenti sembarangan, tata guna lahan atau pengembangan sarana public yang tidak sesuai, dan juga pedagang Kaki Lima (PKL).

B.       Saran

Seharusnya pemerintah Bandar Lampung segera mengambil langkah yang bijak dan memperbaiki sarana dan prasarana sehingga kemacetan di Bandar lampung dapat segera teratasi sebelum menjadi lebih parah seperti di Jakarta.

 DAFTAR PUSTAKA


Badan Pusat Statistik.2010. Peningkatan jumlah kendaraan di Kota Bandar Lampung .http://lampung.bps.go.id/
________2012. Kepadatan Penduduan Kota Bandar Lampung. http://lampung.bps.go.id/
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=258288&val=7023&title=STRATEGI%20DINAS%20PERHUBUNGAN%20DALAM%20MENGATASI%20KEMACETAN%20DI%20KOTA%20BANDAR%20LAMPUNG
http://www.skyscrapercity.com.

Sadyahutomo, M. 2008. Manajemen Kota dan Wilayah, Realita dan Tantangan. Bumi Aksara. Jakarta

PENGAMATAN PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN SAMPAH

PENGAMATAN PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN SAMPAH 


BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah

Pertumbuhan penduduk perkotaan di Indonesia akhir-akhir ini mengalami tingkat pertumbuhan yang tinggi dan pertumbuhan ini akan berlangsung terus dengan percepatan yang tinggi, meskipun Jakarta, dan kota lainnya telah membangun sistem yang ketat dalam kaitannya dengan pertumbuhan penduduk perkotaan di wilayah masing-masing. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tidak disertai dengan pertumbuhan wilayah, akan mengakibatkan terjadinya kepadatan penduduk. Dimana tingkat pertumbuhan penduduk dapat menambah beban berat bagi kota dalam rangka persiapan infrastruktur baru seperti pendidikan, kesehatan serta pelayanan-pelayanan perkotaan lainnya.

Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menimbulkan berbagai macam permasalahan yang mengiringinya. Bersamaan dengan kenaikan jumlah penduduk, pendapatan juga mengalami kenaikan. Kenaikan pendapatan dan pengaruh pola hidup konsumtif telah mendorong kita untuk mengikuti pola hidup foya-foya. Pola hidup ini mempunyai dua dampak terhadap lingkungan hidup pertama; pola hidup ini membutuhkan dana yang semakin besar. Untuk mendapatkan dana itu eksploitasi sumber daya kita makin meningkat misalnya pada hutan dan aliran sungai kita. Kedua; tingkat konsumsi meningkat, mulai dari makanan dan kemasannya. Limbah yang kita hasilkan per orang semakin besar. Padahal jumlah penduduk juga bertambah. Sementara itu, pendapatan kita untuk menangani sampah masih terbatas. Akibatnya, kota jakarta banyak sampah yang bertumpuk dan berserakan.

Salah satu contoh nyata kasus mengenai penanganan sampah yang menjadi berita nasional adalah masalah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantar Gebang. Kasus tersebut menunjukkan bahwa permasalahan sampah ini tidak bisa dianggap main -main. Apalagi bila dihubungkan dengan kehidupan kota besar, maka permasalahan sampah ini akan menjadi sangat urgent untuk dipecahkan. Hal ini terjadi karena pengelolaan sampah tidak diatur dan direncanakan dengan baik. Sejalan dengan perkembangan kondisi sosial perekonomian suatu kota, kompleksitas permasalahan sampah pun akan meningkat. Seperti meningkatnya produksi sampah dari tahun ke tahun, menurunnya kualitas lingkungan perkotaan karena penanganan sampah yang kurang memadai, kebutuhan biaya operasi dan pemeliharaan yang terus meningkat tanpa diimbangi dengan penerimaan retribusi yang memadai, kesulitan mendapatkan lahan TPA (Tempat Pembuangan Akhir), teknis pengoperasian prasarana dan sarana persampahan yang juga tidak memadai dan lain-lain.

Paradigma baru yang diharapkan dapat mulai dilaksanakan adalah dari orientasi pembuangan sampah ke orientasi daur ulang dan pengomposan. Melalui paradigma baru ini pengelolaan sampah tidak lagi merupakan satu rangkaian yang hanya berakhir di TPA, tetapi lebih merupakan satu siklus yang sejalan dengan konsep ekologi. Berdasarkan perhitungan Direktorat Bintek-Dept.PU (1999), bila konsep pengelolaan sampah terpadu dengan strategi 3-M (mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur-ulang) dilaksanakan, maka sampah yang akan masuk ke TPA berupa residu hanya 15 %. Sampah yang dikomposkan 40%, didaur ulang 20 % dan dibakar 25 % (Hadiwijoyo; 1983).

Sampah merupakan salah satu bentuk limbah yang terdapat dalam lingkungan. Sumber, bentuk jenis dan komposisnya sangat dipengaruhi oleh tingkat budaya masyarakat dan kondisi alamnya, makin maju tingkat kebudayaan masyarakat makin kompleks pula sumber dan macam sampah yang ditemui.  Peningkatan timbulan sampah dan semakin tingginya komposisi anorganik sampah serta menurunnya efisiensi TPA menyebabkan perlunya suatu konsep untuk mengurangi timbulan sampah yang terangkut ke TPA. Besarnya potensi sampah yang bisa didaur ulang ditentukan oleh timbulan sampah, komposisi sampah dan karakteristik sampah. Besarnya timbulan sampah ditentukan oleh status ekonomi penduduk tersebut. Semakin tinggi status ekonomi suatu penduduk maka semakin besar pula timbulan sampahnya.

B.       Rumusan Masalah

1.        Bagaimanakah keadaan pertumbuhan penduduk dan masalah sampah di Jakarta saat ini?
2.        Apakah penyebab pertumbuhan penduduk dan terjadinya masalah sampah di Jakarta?
3.        Bagaimanakah upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah sampah dan pertumbuhan penduduk di jakarta?

C.      Tujuan

1.        Mengetahui keadaan pertumbuhan penduduk dan masalah sampah di Jakarta saat ini.
2.        Mengetahui penyebab pertumbuhan penduduk dan terjadinya masalah sampah di Jakarta.
3.        Mengetahui upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah sampah dan pertumbuhan penduduk di Jakarta.

D.      Sumber data yang digunakan

Sumber data yang digunakan dalam makalah ini adalah data skunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada.

  
BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pertumbuhan Penduduk di Jakarta

Pertumbuhan penduduk ialah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Pertumbuhan pendduk di Jakarta selalu meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah penduduk Jakarta adalah 9.607.800 jiwa menurut data BPS hasil sensus penduduk 2010. Namun pada saat ini angka tersebut dapat bertambah seiring datangnya para pekerja dari kota satelit seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Depok. Kota/Kabupaten yang paling banyak penduduknya adalah Jakarta Timur dengan 2.693.896 penduduk, sementara Kepulauan Seribu adalah kabupaten dengan paling sedikit penduduk, yaitu 21.082 jiwa.

Berdasarkan Data dari BPS Provinsi DKI Jakarta, pada tahun 2014 jumlah penduduk Jakarta adalah 10, 075, 30 jiwa. Data ini mengalami pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi dari jumlah penduduk di tahun- tahun sebelumnya yaitu:
1.        Pada Tahun 2010 Jumlah penduduk Jakarta adalah 9.607.800 jiwa
2.        Pada Tahun 2011 Jumlah penduduk Jakarta adalah 9.752.100 jiwa
3.        Pada Tahun 2012 Jumlah penduduk Jakarta adalah 9.862.100 jiwa
4.        Pada Tahun 2013 Jumlah penduduk Jakarta adalah 9.969.900 jiwa
5.        Pada Tahun 2014 Jumlah penduduk Jakarta adalah 10.075.300 jiwa


B.       Hubungan Pertumbuhan Penduduk dan masalah sampah di Jakarta

Pertambahan jumlah penduduk samgat mempengaruhi terjadinya masalah sampah yaitu dari perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah. Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan. Meningkatnya volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan. Pengelolaan sampah yang tidak mempergunakan metode dan teknik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan selain akan dapat menimbulkan dampak negatife terhadap kesehatan juga akan sangat menganggu kelestarian fungsi lingkungan baik lingkungan pemukiman, hutan, persawahan, sungai dan lautan.

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Seiring dengan peningkatan populasi penduduk dan pertumbuhan ekonomi saat ini pengelolaan sampah sebagian besar kota masih menimbulkan permasalahan yang sulit dikendalikan. Timbunan sampah yang tidak terkendali terjadi sebagai konsekuensi logis dari aktivitas manusia dan industrialisasi, yang kemudian berdampak pada permasalahan lingkungan perkotaan seperti keindahan kota, kesehatan masyarakat, dan lebih jauh lagi terjadinya bencana (ledakan gas metan, tanah longsor, pencemaran udara akibat pembakaran terbuka dan lain sebagainya)  Disisi lain, pengelolaan sampah yang diselenggerakan oleh dinas terkait hanya berfokus pada pengumpulan dan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa pengolahan tertentu. Hampir semua pemerintah daerah di Indonesia, masih menganut paradigma lama penanganan sampah kota, yang menitikberatkan hanya pada pengangkutan dan pembuangan akhir. Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut sudah saatnya pemerintah daerah mau merubah pola pikir yang bernuansa lingkungan. Konsep pengelolaan sampah yang terpadu sudah saatnya diterapkan yaitu dengan meminimasi sampah serta maksimasi kegiatan daur ulang dan pengomposan disertai dengan TPA yang ramah lingkungan.

C.      Upaya Pemerintah dalam menanggulangi sampah dan kepadatan penduduk di Jakarta

Usaha-usaha yang dilakukan pemerintah dalam menekan laju pertumbuhan penduduk antara lain meliputi hal-hal berikut ini:
a.         Meningkatkan pelayanan kesehatan dan kemudahan dalam menjadi akseptor Keluarga Berencana. 
b.        Mempermudah dan meningkatkan pelayanan dalam bidang pendidikan, sehingga keinginan untuk segera menikah dapat dihambat.
c.         Meningkatkan wajib belajar pendidikan dasar bagi masyarakat, dari 6 tahun menjadi 9 tahun. Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi jumlah penduduk dengan luas area dimana mereka tinggal. Beberapa pengamat masyarakat percaya bahwa konsep kapasitas muat juga berlaku pada penduduk bumi, yakni bahwa penduduk yang tak terkontrol dapat menyebabkan katastrofi Malthus. Beberapa menyangkal pendapat ini.

Untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) menyiapkan sejumlah strategi. Berikut empat strategi Jokowi yang akan digunakan untuk mengatasi sampah.

1.        Bank sampah
Fokus program kerja dinas kebersihan lebih pada Integrated Test Facility (ITF) atau pengelolaan secara terpadu. Contohnya, tempat pengelolaan sampah terpadu, dan pembangunan Bank Sampah. "Pembangunan ITF dan bank sampah," Nantinya, sampah yang diserahkan warga ke bank sampah akan dikelompokan berdasarkan jenisnya. Sampah yang tak dapat didaur ulang dan dimanfaatkan lantas akan dikirim ke Bantar Gebang.

2.        Pengerukan kali
Warga dan juga Dinas PU bahu membahu melakukan kerja bakti untuk membersihkan kali. Selain itu Dinas PU juga memberikan peralatan berupa cangkrang, sekop, pacul, karung dan alat angkut.

3.        Pengelolaan sampah terpadu
4.        Galakkan kampanye budaya bersih

  
BAB III
PENUTUP


A.      Kesimpuan

Pertambahan jumlah penduduk samgat mempengaruhi terjadinya masalah sampah yaitu perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah. Meningkatnya volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan. Pengelolaan sampah yang tidak mempergunakan metode dan teknik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan selain akan dapat menimbulkan dampak negatife terhadap kesehatan juga akan sangat menganggu kelestarian fungsi lingkungan baik lingkungan pemukiman, hutan, persawahan, sungai dan lautan.

Usaha-usaha yang dilakukan dalam menekan pertumbuhan penduduk antara lain meningkatkan pelayanan kesehatan, kemudahan menjadi akseptor KB, mempermudah dan meningkatkan pendidikan, sehingga keinginan segera menikah terhambat, meningkatkan wajib belajar masyarakat,. Untuk mengatasi persoalan sampah strategi yang digunakan untuk mengatasi sampah yaitu bank sampah, pengerukan kali, pengelolaan sampah terpadu, galakkan kampanye budaya bersih

B.       Saran

1.        Pemerintah dan masyarakat seharusnya dapat bekerja sama dalam menanggulangi sampah melalui kerjasama untuk tidak membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya.
2.        Pemerintah seharusnya lebih tegas untuk tidak membiarkan orang-orang yang melakukan urbanisasi tanpa tujuan dan pekerjaan yang jelas, sehingga kepadatan penduduk jakarta dapat berkurang.





DAFTAR PUSTAKA


BAPPEDA Jakarta.2015. Statistik Jumlah Penduduk Jakarta. http://bappeda jakarta.go.id/?page_id=1131

Fitrah, Irma resqi.2013.Solusi Menanggulangi Kepadatan Penduduk http://irmareski.blogspot.com/2013/04/solusi-menanggulangi-kepadatan-penduduk.html

http://www.merdeka.com/jakarta/4-strategi-jokowi-perangi-sampah-jakarta.html

Prasetyo, Bayu. 2014. Permasalahan Lingkungan di Kota Padat Penduduk. http://www.b-duu.com/2014/05/permasalahan-lingkungan-di-kota-padat.html.  


WWW.Kependudukan dan ketenagakerjaanJAKARTA.com

MAKALAH METODE AJAR

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA KARTU DOMINO TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR AKUNTANSI PADA MATERI  AKUNTANSI


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Melalui pendidikan dapat menentukan maju mundurnya suatu bangsa. Keberhasilan pendidikan akan menentukan perkembangan suatu negara menuju kemandirian dalam semua bidang kehidupan. Salah satu indikator keberhasilan pendidikan adalah terbentuknya individu yang cakap dan mandiri melalui suatu proses belajar. Keberhasilan proses belajar sendiri dapat ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku individu menuju hal yang lebih baik. Fakta secara umum yang sering ditemui didalam sering dijumpai berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran misalnya, siswa ramai, siswa tidak perhatian terhadap guru sehingga siswa tidak paham terhadap materi yang disampaikan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Keselarasan terhadap keberlangsungan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh sistem komunikasi yang lancar antara guru dan siswa. Sistem komunikasi tersebut memerlukan perantara yang sesuai dengan materi yang diajarakan, oleh karena itu dalam kegiatan belajar mengajar media berperan sebagai perantara untuk tersampaikannya informasi materi yang akan diterima oleh siswa. Posisi media ini akan berlaku pada proses pembelajaran disemua cabang ilmu pengetahuan sesuai dengan karakteristik masing-masing ilmu.

Akuntansi merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang cukup unik dibandingkan dengan ilmu sosial yang lain karena di dalamnya dipelajari seni dalam pencatatan keuangan. Salah satu materi akuntansi yang dianggap sebagai momok dalam mempelajari akuntansi adalah materi ayat jurnal penyesuaian. Materi tersebut memerlukan ketelitian dan kejelian dalam setiap perhitungannya. Mata pelajaran ini sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit bagi siswa. Anggapan bahwa akuntansi adalah mata pelajaran yang sulit, rumit dan membosankan ini salah satunya dipengaruhi oleh penggunaan media yang tidak tepat dalam proses belajar mengajar. Kebanyakan sekolah-sekolah penggunaan variasi media jarang sekali dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar sering kali dilakukan hanya dengan menggunkan metode ceramah dan media tradisional (papan tulis dan spidol) serta menggunakan power point.

Bagi sebagian siswa kelas X, pelajaran akuntansi merupakan pelajaran yang sulit Hal tersebut terjadi pada dasarnya juga dipengaruhi oleh kegiatan belajar mengajar yang kurang kondusif misalnya, pemilihan metode, model maupun media yang di gunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar kurang tepat dan efisien. Kesulitan-kesulitan diatas yang banyak dialami siswa akan mempengaruhi hasil belajar yang di perolehnya. Oleh karena itu untuk mewujudkan hasil belajar siswa yang lebih baik, peneliti menggunakan alternatif penggunaan media pembelajaran sebagai solusinya.

Pentingnya peran media pembelajaran dalam proses pembelajaran, menuntut seorang guru akuntansi untuk mampu menggunakan media yang menarik dan menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan dapat mempermudah siswa untuk memahami materi yang disampaikan oleh guru. Dengan menggunakan media yang tepat guru dapat melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa serta dapat meningkatkan pemahaman dan semangat siswa dalam mengikuti program belajar mengajar yang berlangsung. Salah satu media yang dapat menarik siswa untuk belajar adalah media kartu permainan (kartu domino). Hal ini didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Hestuaji (2012) dengan hasil bahwa penggunaan media domino dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman konsep siswa. Selain itu, penelitian yang dilakukan Heksanti (2012) juga mengatakan bahwa penggunaan media domino dapat meningkatkan ketertarikan siswa dalam mengikuti pelajaran.

Dari uraian di atas, maka pada makalah ini tertarik mengambil judul: “Pengaruh Penggunaan Media Kartu Domino Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Akuntansi Pada Materi Jurnal Penyesuaian Kelas X Akuntansi“.

B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan diatas rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimanakah pengaruh penggunaan media kartu domino terhadap peningkatan hasil belajar akuntansi pada materi jurnal penyesuaian kelas X akuntansi.

C.      Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini antara lain:
1.        Mengetahui pengaruh penggunaan media kartu domino terhadap peningkatan hasil belajar akuntansi pada materi jurnal penyesuaian kelas X akuntansi
2.        Mengetahui cara penggunaan kartu domino
3.        Pengetahui pengertian hasil belajar dan akuntansi


 BAB II
PEMBAHASAN

A.      Hasil Belajar Akuntansi

1.        Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan inti di sekolah. Berhasil tidaknya seorang siswa tergantung bagaimana proses belajar di sekolah tersebut. Para ahli mengemukakan pendapatnya mengenai definisi belajar seperti yang dikemukakan oleh Gino (2000:6) bahwa “Belajar adalah suatu kegiatan yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, baik potensial maupun aktual. Perubahan-perubahan itu berbentuk kemampuan-kemampuan baru yang dimiliki dalam waktu yang relative lama (konstan). Sejalan dengan Gino, pendapat lain juga dikemukakan oleh Slameto (2003:2) bahwa “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”. Perubahan tingkah laku yang diperoleh merupakan hasil interksi yang di dapat dari lingkungan. Interksi tersebut antara lain adalah proses belajar mengajar yang diperoleh di sekolah. Dengan belajar seorang dapat memperoleh sesuatu yang baru baik itu pengetahuan, keterampilan maupun sikap.

Selanjutnya menurut Sardiman (2009:20) “Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya”. Sedangkan menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2009:128) “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi lingkungan”. Menurut sumber lain Purwanto (2009:39) mengatakan bahwa “Belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Perubahan itu diperoleh melalui usaha (bukan karena kematangan), menetap dalam waktu yang relatif lama dan merupakan hasil pengalaman”.

Berbagai definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha individu memperoleh pengetahuan dari pengalaman individu sendiri maupun interaksi dari individu lain dan lingkungan sekitar, dimana perubahan tersebut bersifat relatifmenetap.

2.        Hakikat Hasil Belajar

a.        Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar merupakan peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:250) hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu dari sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran.

Menurut Oemar Hamalik (2006:30) “hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti”.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih  baik.

b.        Aspek- Aspek Hasil Belajar
Perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar tersebut dapat berbentuk macam-macam. Menurut Gagne dalan Nana Sudjana (2008:22) ada lima bentuk perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar yaitu:
1)    Informasi verbal yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
2) Kecakapan intelektual yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan unsur. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
3)  Strategi kognitif yaitu kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
4)   Sikap yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsure pemikiran, perasaan yangmenyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
5)    Kecakapan motorik ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

c.         Fungsi Hasil Belajar
Tujuan belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku pada diri siswa. Oleh karena itu, dalam penilaian hendaknya diperiksa sejauh mana perubahan tingkah laku siswa setelah mengalami proses belajar. Dengan mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran, dapat diambil tindakan perbaikan proses pembelajaran dan perbaikan siswa yang bersangkutan. Dalam penilaian ini dapat dilihat sejauh mana keefektifan proses pembelajaran mengupayakan perubahan tingkah laku. Oleh sebab itu, penilaian hasil dan proses belajar mengajar saling berkaitan satu sama lain sebab hasil belajar yang dicapai siswa merupakan akibat pembelajaran yang ditempuhnya. Menurut Muhibbin Syah (2006:142), evaluasi hasil belajar memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
1)        Fungsi administratif untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku raport
2)        Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan.
3)        Fungsi diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan merencanakan program perbaikan pengajaran.
4)        Sumber data BP untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan.
5)        Bahan pertimbangan pengembangan pada yang akan datang meliputi  pengembangan kurikulum, metode, alat-alat PBM.

B.       Mata Pelajaran Akuntansi

Akuntansi merupakan mata pelajaran yang mengkaji tentang suatu sistem untuk menghasilkan informasi berkenaan dengan transaksi keuangan. Menurut American Accounting Assosiation seperti yang dikutip Soemarsono (2004:3) ”Akuntansi adalah proses mengidentifikasi, pengukuran, dan pengomunikasian
informasi ekonomi sehingga memungkinkan adanya pertimbangan dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi oleh para pengguna informasi tersebut”.

Definisi ini mengandung dua pengertian, yakni;
1.        Kegiatan Akuntansi
Bahwa akuntansi merupakan suatu proses yang terdiri dari identifikasi, pengukuran, dan pelaporan informasi akuntansi.
2.        Kegunaan Akuntansi
Bahwa informasi ekonomi yang dihasilkan oleh akuntansi diharapkan berguna dalam penilaian dan pengambilan keputusan mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan.

C.      Kartu Domino

Menurut Indriana (2011) kartu domino merupakan salah satu media yang masuk dalam kategori flashcard. Flashcard adalah media pembelajaran yang terbentuk kartu bergambar yang ukurannya seukuran dengan postcard atau sekitar 25x30 mm.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) kartu domino adalah sebuah kartu pemainan dengan 28 kartu yang bermata bertitik besar tiap kartu dibagi menjadi dua bidang tiap berisi 0-6 titik. Permainan domino umumnya dimainkan oleh 4 orang, namun dapat juga kurang atau lebih. Yang paling umum dimainkan menggunakan kartu domino adalah permainan dengan meletakkan kartu yang bernilai paling kecil terlebih dahulu yaitu kartu kosong, kemudian diikuti oleh pemain lain, dengan menyambung kartu dengan nilai yang bersesuaian sehingga membentuk suatu pola yang tidak terputus.

D.      Kartu Domino Akuntansi

1.        Pengertian
Media kartu domino akuntansi merupakan media visual yang merupakan bagian dari media sederhana. Kartu domino akuntansi merupakan media pembelajaran yang dibuat dengan mengadaptasi kartu domino. Bedanya dalam permainan domino nilai kartu ditentukan dengan bulatan sedangkan pada permainan kartu ini berisi kalimat-kalimat akuntansi.
2.        Kelebihan penggunaan media kartu
a.         Praktis, karena penggunaan media kartu ini bisa digunakan disetiap waktu, tempat dan tidak membutuhkan keterampilan khusus dalam penggunaannya
b.        Media kartu yang kita inginkan mudah didapat dan sederhana.

3.        Kekurangan media kartu
Kekurangan sebuah media kartu yaitu tidak tahan lama karena dibuat dari bahan kertas, mudah hilang atau musnah karena bentuknya yang kecil, ringan dan bisa dibawa kemana-mana. Kartu domino disini bukanlah suatu kartu yang digunakan oleh orang untuk berjudi, melainkan suatu media untuk pembelajaran akuntansi yang bentuknya dibuat seperti kartu domino untuk menarik minat siswa dalam belajar sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

E.       Penggunaan Kartu Domino dalam Pembelajaran

Penggunaan dalam bentuk permainan domino adalah permainan satu set kartu domino akutansi yang cara bermainnya diambil dan diletakkan diatas meja. Sebagai seorang guru, mengaplikasikan berbagai permainan dalam kegiatan pembelajaran merupakan hal yang wajib dilakukan. Suatu kegiatan pembelajaran efektif apabila ada berbagai strategi yang digunakan, baik berupa metode, model, pendekatan, maupun teknik. Salah satunya yaitu permainan. Permainan atau Game akrab dijadikan sebagai salah satu aplikasi dalam strategi pembelajaran aktif.

Penggunaan media kartu domino dalam pembelajaran akuntansi dapat membuat pembelajaran berbeda dan menyenangkan sehingga materi yang di sampaikan dapat mudah dipahami. Hal ini juga dapat membuat siswa lebih mengingat, memprediksi, dan mencocokkan pernyataan yang ada dalam kartu. Pernyataan dan pertanyaan dalam permainan ini harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Keuntungan yang lain yaitu dapat meningkatkan kesiapan siswa dalam belajar, dan siswa lebih aktif dalam mencocokkan pernyataan dan pertanyaan karena disajikan dalam bentuk permainan.

Permainanya yaitu menyusun atau mencocokkan pernyataan yang ada pada isi kartu yang ssesuai dengan isi kartu yang telah dikeluarkan. Kolom domino yang ditebak yaitu bagian kolom bawah atau kolom atas, misalnya kolom bawah berisi A maka siswa harus mencari kartu yang memiliki kesesuaian dengan huruf A. Kemudian diikuti oleh pemain lainnya dengan menyambung kartu dengan merangkai pernyataan yang cocok.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Kartu domino adalah sebuah kartu pemainan dengan 28 kartu yang bermata bertitik besar tiap kartu dibagi menjadi dua bidang tiap berisi 0-6 titik.

Penggunaan media kartu domino dalam pembelajaran akuntansi dapat membuat pembelajaran berbeda dan menyenangkan sehingga materi yang di sampaikan dapat mudah dipahami. Hal ini juga dapat membuat siswa lebih mengingat, memprediksi, dan mencocokkan pernyataan yang ada dalam kartu. Pernyataan dan pertanyaan dalam permainan ini harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Keuntungan yang lain yaitu dapat meningkatkan kesiapan siswa dalam belajar, dan siswa lebih aktif dalam mencocokkan pernyataan dan pertanyaan karena disajikan dalam bentuk permainan.

B.       Saran

1.    Media kartu domino akuntansi dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar siswa di luar sekolah
2.    Penggunaan materi kartu domino akuntansi dapat dikembangkan lagi sehingga tidak hanya jurnal penyesuaian saja melainkan materi akuntansi yang lainnya.


DAFTAR PUSTAKA


Arsyad, Azhar. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Indriana, Dina. 2011. Ragam Alat Bantu Media Pengajaran. Jogjakarta: DIVA Press

Heksanti, Mei Yuanita. 2012. Penggunaan Media Kartu Domino-Kwartet (DOMTET) dalam pembelajaran keterampilan berbicara Bahasa Jerman kelas XI Bahasa SMA Negari 1 Tumpang.Skripsi.Tidak dipublikasikan Malang.

Hestuaji, Yogi. 2012. Pengaruh Media Kartu Domino terhadap Pemahaman Konsep Pecahan. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2001. Kamus Besar  Bahasa  Indonesia.  Jakarta: Balai Pustaka. Riduwan, 2011. Skala Pengukuran Variabel- variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Suprijono, Agus. 2013. Cooperative learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Trianto.2009.Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Saturn Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.